Senin, 28 Maret 2011

RAGAM BENTUK WANITA “NAKAL”


RAGAM BENTUK WANITA “NAKAL”
oleh: Apriyanti Rahmawati, S.Pd

Bahasa bersifat dinamis kerena bahasa melekat erat pada budaya dan budaya melekat pada manusia dan manusia bersifat dinamis. Sehingga, sesuai dengan pendapat bahwa bahasa itu bersifat dinamis dan terus berkembang, dalam ilmu semantik kita mengenal teori Rolland Barthes ‘Meta Bahasa’ mengenai kemungkinan bahasa itu berkembang kearah bentuk dan berkembang kearah makna. Dalam esai ini saya mencoba membahas kemungkinan bahasa berkembang kearah bentuk.
Di masyarakat kita sering menemukan banyak sekali kata-kata, singkatan atau akronim yang mengacu pada makna yang sama. Seperti makna ‘penjual diri’ banyak sekali istilah-istilahnya yang beredar di masyarakat ‘PSK’, ‘pelacur’, ‘watunas’, ‘WTS’, ‘hoster’, dll.
Seiring dengan zaman yang kian berkembang. Bisnis prostitusi pun kian menjamur dan dampak dari itu juga melahirkan istilah-istilah baru bagi yang menjajakannya. Contohnya seperti ’PSK’, singkatan ini beberapa tahun terakhir telah menjadi bagian dalam bahasa baku bahasa Indonesia. Kependekan dari ’Pekerja Seks Komersial’, yang maknanya lebih mengacu pada seseorang yang melakukan perbuatan zina atau hubungan seksual dengan imbalan, baik berupa uang ataupun lainnya.
Dalam hal ini, kita juga mengenal istilah pelacur yang maknanya mengacu pada orang yang melakukan tindakan seksual demi uang atau kebendaan (materi), sedangkan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) (2003: 623) pelacur berarti perempuan yang melacur; wanita tunasusila; sundal. Turunan dari kata ‘lacur’ yang artinya buruk laku. Istilah pelacur juga mengalami polisemi sehingga dapat dipakai untuk orang-orang yang menyalahgunakan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, misalnya: Pelacur agama, pelacur intelektual, pelacur hukum dan sebagainya.
Dari masa ke masa istilah ‘penjual diri’ ini mengalami perubahan bentuk. Beberapa istilah yang saya temukan dari hasil membaca dan pengamatan di masyarakat, antara lain:
‘Watunas’ adalah kependekan dari ‘wanita tunasusila’. Istilah ini popular di tahun 1970-an.
‘Hostes’ berasal dari kata Hostess dalam bahasa Belanda yang makna aslinya adalah tuan rumah wanita. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) (2003: 408), wanita yang pekerjaannya menerima, menjamu, dan menghibur tamu (di hotel, kelab malam, bar, dsb):pramuria. KBBI mendefinisikan kata hostes hanya sebatas penjamu atau menghibur tamu tidak ke arah prostitusi. Akan tetapi, dalam penggunaannya di masyarakat kata ini mengalami perubahan makna menjadi serupa dengan pelacur.
‘WTS’ adalah versi lebih pendek dari ‘watunas’, mulai muncul pada tahun 1980-an, dan sekarang penggunaannya mulai jarang karena tergeser oleh PSK.

Kata PSK alias Pekerja Seks Komersial ini adalah upaya penghalusan (eufemisme) dari kata-kata, singkatan atau akronim lain yang dianggap terlalu vulgar. Namun, seiring berkembangnya bahasa. Gelar bahasa halus dari pelacur pada PSK pun nampaknya akan berubah karena eufemisme akan selalu berubah seiring dengan berubahnya bahasa ke arah bentuk. Lama-kelamaan eufemisme PSK pun tak cukup lembut lagi, dan eufemisme lain pun akan ditemukan sehingga memperoleh tambahan sinonim atau kemungkinan bentuk lain dalam variasi.
Bentuk lain dari istilah ‘penjual diri’ yang lazim dipakai hanya dalam percakapan sehari-hari atau slang, karena terkesan kasar jika dipakai dalam bahasa resmi, yakni:
Dongdot (popular di daerah Jawa Barat sebelah utara), gundik, bondon, wadon (populer di daerah pantura), kupu-kupu malam (mungkin karena sering mangkal di malam hari), sundal, wanita P (wanita panggilan), gadis order, wanita malam, lonthe (popular di daerah Jawa Timur), bispak (akronim dari bisa dipakai), perek (akronim dari perempuan eksperimen), ayam kampus (mahasiswa yang berprofesi sebagai pelacur), ayam abu-abu (anak SMA yang berprofesi sebagai pelacur), pe’cun (pelacur remaja yang kadang rela tidak dibayar jika saling suka), dan sekarang ini pun di masyarakat sedang popular dengan istilah jablaí (akronim dari jarang dibelai atau janda butuh belaian) diambil dari judul sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Titi Kamal dalam film Mendadak Dangdut. Istilah lain yang yang muncul di kalangan atas (kaum eksekutif) yaitu Ladies Escort, Ladies Night, Callgirls, dan Escort Service, gadis-gadis Burespang (gadis-gadis bubaran restoran Jepang), Buresko (gadis-gadis bubaran restoran Korea), Burescin (gadis-gadis bubaran restoran Cina). Tiga istilah terakhir merupakan istilah untuk para gadis-gadis pramusaji dari restoran-restoran Jepang, Korea, dan Cina yang setelah usai kerja masih nyambi kerja ’badaniah’ lainnya.
Bukan hanya istrilah-istilah bagi pelacur wanita saja yang memiliki ragam bentuk akan tetapi istilah-istilah bagi pelacur laki-laki pun sekarang mempunyai ragam bentuk. Dulu istilah bagi pelacur laki-laki kerap dipanggil gigoló. Akan tetapi, perkembangan istilah di kalangan pelacur laki-laki pun sepertinya mulai banyak walaupun tidak sebanyak seperti istilah bagi pelacur wanita, antara lain: Kucing, brondong, bronis (akronim dari brondong manis) dan lain-lain.
Beberapa tahun lagi pastilah istilah-istilah ini akan berubah entah apa bentuknya. Mari kita lihat saja nanti karena bahasa akan terus berkembang selama bahasa itu masih digunakan oleh masyarakat.

PERUBAHAN FONOLOGIS, KELAS KATA , SEMANTIS, ANALISIS ETIMOLOGIS, dan PENULISAN UNSUR SERAPAN

PERUBAHAN FONOLOGIS
Perubahan fonologis, baik vokal maupun konsonan, kosakata pungutan dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Indonesia dapat digolongkan menjadi lima jenis yaitu,
a. penghilangan bunyi akhir,
b. perubahan bunyi akhir,
c. penambahan bunyi akhir,
d. metatesis, dan
e. perubahan artikulatoris.

a. Penghilangan Bunyi Akhir
Penghilangan bunyi akhir atau dalam istilah fonologi disebut apokop banyak terjadi dalam kosakata pungutan dalam bahasa Belanda ke bahasa Indonesia. Penghilangan bunyi akhir yang kami temukan, antara lain,
Bhs. Belanda Bhs. Indonesia Keterangan
activist aktivis penghilangan konsonan /t/
anomalie anomali penghilangan vokal /e/
asfalt aspal penghilangan konsonan /t/
atheist ateis penghilangan konsonan /t/
dienst dinas penghilangan konsonan /t/
eruptie erupsi penghilangan vokal /e/
erotisch erotis penghilangan konsonan /c/ dan /h/
bekend beken penghilangan konsonan /d/
epitheton epitet penghilangan vokal /o/ dan konsonan /n/
incident insiden penghilangan konsonan /t/
apologie apologi penghilangan vokal /e/
selderie seledri penghilangan vokal /e/
fundament fundamen penghilangan konsonan /t/
roulette* rolet Penghilangan /te/
regime rezim Penghilangan vokal /e/
Pada umumnya, konsonan /t/ dan vokal /e/ pada akhir kata serapan dari bahasa Belanda hilang.
* Karena dalam kaidah fonotaktik bahasa Indonesia tidak ada susunan vokal vokal /iə/, /eə/, /eu/, /oe/, /ou/, dan /uə/.

b. Perubahan Bunyi Akhir
Perubahan bunyi akhir dalam kosakata pungutan dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia yang kami temukan antara lain,
Bhs. Belanda Bhs. Indonesia Keterangan
akte akta vokal /ə/ berubah menjadi vokal /a/
bureau biro diftong /au/ berubah menjadi vokal /o/
distric distrik konsonan /c/ berubah menjadi konsonan /k/
garage garasi /ge/ berubah menjadi /si/
dimentie dimensi /tie/ berubah menjadi /si/
declamatie deklamasi /tie/ berubah menjadi /si/
desinfectie desinfeksi /tie/ berubah menjadi /si/
executie eksekusi /tie/ berubah menjadi /si/
dommekracht dongkrak /cht/ berubah menjadi /k/
majoriteit mayoritas /eit/ berubah menjadi /as/
opzeichter opsir /chter/ berubah menjadi /r/
champagre sampanye /gre/ berubah menjadi /nye/

Perubahan /ə/ nenjadi /a/ pada morfem /akta/, secara fonologis karena /ə/ dan /a/ berdekatan, yaitu sama-sama vokal tengah.. Masih banyak orang yang lebih suka melafalkan /akte/ daripada /akta/, khususnya orang Sunda. Selain itu, keberadaan bangsa Belanda yang cukup lama di Indonesia merupakan salah satu sebab masyarakat Indonesia lebih suka melafalkan /akte/ daripada /akta/. Mungkin karena faktor inilah morfem /akta/ menjadi salah satu morfem yang problematis
Terjadi monoftongisasi dalam perubahan /Bureau/ menjadi /Biro/, yaitu /au/ menjadi /o/. Konsonan /c/ di muka /i/ berubah menjadi /k/, seperti dalam kata distric berubah menjadi distrik. Perubahan dimentie menjadi dimensi karena /tie/ dalam bahasa Belanda berubah menjadi /si/.

c. Penambahan Bunyi Akhir
Penambahan bunyi akhir atau dalam istilah fonologi disebut paragog yang kami temukan dalam kosakata serapan dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia, antara lain,
Bhs. Belanda Bhs. Indonesia Keterangan
beurs bursa penambahan vokal /a/
fenomeen fenomena penambahan vokal /a/
hypnose hipnosis penambahan konsonan /s/

d. Metatesis
Metatesis adalah perubahan letak huruf yang biasanya disertai dengan perubahan bunyi. Dalam menganalisis metatesis dalam kosakata serapan dari bahasa Belanda ini, kami tidak menggunakan pola suku kata yang terdapat dalam buku Bahasa Bantu. Kami khawatir pola tersebut hanya berlaku bagi kosakata serapan bahasa Arab. Metatesis yang kami temukan dalam kosakata serapan dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia, yaitu,
Bhs. Belanda Bhs. Indonesia Keterangan
selderie seledri pertukaran letak konsonan /d/ dengan vokal /e/ pada suku kata kedua
frikadel perkedel pertukaran letak konsonan /r/ dengan vokal /i/ yang mengalami perubahan menjadi vokal /e/ pada sukukata pertama
Metatesis dalam kata selderie menjadi seledri terjadi pada vokal /e/ dengan konsonan /d/ dalam suku kata kedua. Metatesis dalam kata frikadel menjadi perkedel terjadi pada vokal /i/ dengan konsonan /r/ dalam suku kata pertama, disertai pula dengan perubahan vokal /i/ menjadi /e/.

e. Perubahan Artikulatoris
Perubahan artikulatoris adalah perubahan yang berhubungan dengan artikulasi. Artikulator bangsa Indonesia mempunyai kelenturan yang berbeda dengan artikulator bangsa Belanda. Bunyi yang dianggap mudah untuk dilafalkan oleh orang Belanda ternyata sulit untuk dilafalkan oleh orang Indonesia, maka terjadilah perubahan artikulatoris.
Perubahan artikulatoris meliputi perubahan konsonan, perubahan vokal, perubahan vokal dan konsonan, dan perubahan yang tidak bergejala. Perubahan ini biasanya disertai oleh penghilangan dan atau penambahan vokal dan atau konsonan.
Jenis Perubahan Artikulatoris Bahasa
Belanda Bahasa
Indonesia Keterangan
a. perubahan konsonan asfalt aspal perubahan konsonan /f/ menjadi konsonan /p/
biljet bilyet perubahan konsonan /j/ menjadi konsonan /y/
bilijun biliyun perubahan konsonan /j/ menjadi konsonan /y/
declamatie deklamasi perubahan konsonan /c/ menjadi konsonan /k/
disinfectie desinfeksi perubahan konsonan /c/ menjadi konsonan /k/
executie eksekusi perubahan konsonan /x/ menjadi /ks/
champagre sampanye perubahan konsonan /ch/ menjadi /s/

b. perubahan vokal borduur bordir perubahan vokal /uu/ menjadi vokal /i/
biefstuk bistik perubahan vokal /u/ menjadi /i/ serta penghilangan vokal /e/
bureau biro perubahan vokal /u/ menjadi vokal /i/ dan diftong /au/ menjadi /o/ serta penghilangan vokal /e/
favoriet favorit penghilangan vokal /e/
kamer kamar perubahan vokal /ə/ menjadi vokal /a/
meubel* mebel Penghilangan vokal /u/
mobiel mobil penghilangan vokal /e/
roulette* rolet Penghilangan vokal /u/
c. perubahan vokal dan konsonan bezoek* besuk perubahan konsonan /z/ menjadi konsonan /s/ serta perubahan /oe/ menjadi /u/


bikkel bekel penghilangan satu konsonan /k/ dan perubahan vokal /i/ menjadi vokal /e/


bultzak bolsak perubahan konsonan /z/ menjadi konsonan /s/, perubahan vokal /u/ menjadi vokal /o/, serta penghilangan konsonan /t/
jangen jongos perubahan vokal /a/ menjadi vokal /o/, konsonan /n/ menjadi konsonan /s/, vokal /e/ menjadi vokal /o/
d. perubahan yang tidak bergejala rit rit



ritme ritme
salon salon
saldo saldo
toga toga
urine urine
via via
virus virus
wortel wortel
Perubahan fonem /f/ menjadi /p/ pada kata aspal, secara fonologis karena /f/ dan /p/ sama-sama tidak bersuara, begitu juga /c/ menjadi /k/ pada kata deklamasi dan desinfeksi. Sedangkan perubahan /j/ menjadi /y/ pada kata biliyun dan bilyet dikarenakan /y/ dan /j/ sama-sama palatal dan bersuara. Untuk perubahan /x/ menjadi /ks/ dan /ch/ menjadi /s/, disesuaikan dengan aturan penulisan unsur serapan dalam EYD. Pada kata biro, /u/ berubah menjadi /i/ dikarenakan kedua fonem tersebut sama-sama vokal tinggi. Perubahan kamer menjadi kamar, yaitu perubahan fonem /ə/ menjadi /a/ karena secara fonologis kedua fonem itu sama-sama fonem tengah. Untuk perubahan /z / menjadi /s/ pada kata besuk dan bolsak, serta fonem /n/ menjadi /s/ pada kata jongos dikarenakan foem /s/, /z/, dan /n/ sama-sama alveodental.
Pada kata biefstuk, bier, bureau, favoriet, meubel, dan mobiel mengalami gejala singkope yaitu penghilangan fonem di tengah. Pada kata bureau, mengalami gejala monoftongisasi.
* Karena dalam kaidah fonotaktik bahasa Indonesia tidak ada susunan vokal vokal /iə/, /eə/, /eu/, /oe/, /ou/, dan /uə/.




PERUBAHAN KELAS KATA
Ada beberapa perubahan kelas kata yang kami temukan dalam kosakata serapan dari bahasa Belanda, di antaranya,
Bhs. Belanda Bhs. Indonesia
Kata Kelas Kata Makna Kata Kelas Kata Makna
epitheton A julukan, nama spesies epitet N kata sifat, benda, ataau frasa yang digunakan untuk menghina orang/benda, deskripsi nama/judul
senior N sudah berpengalaman, sudah tua senior A lebih tinggi dalam pangkat dan jabatan kedinasan, lebih matang dari pengalaman dan kemampuan, lebih tua dalam usia
Untuk kata senior, meskipun menurut kami arti senior dalam bahasa Belanda merujuk ke kata sifat, tetapi di kamus bahasa Belanda memang tertulis kata benda.

PERUBAHAN SEMANTIS
Bhs. Belanda Bhs. Indonesia
kata makna kata makna
bikkel tulang tumit domba yang digunakan untuk bermain bekel bekel permainan dengan sebuah bola karet dan buah mainan berupa kerang
jongen anak laki-laki, jagoan/preman jongos pembantu rumah tangga (laki-laki);pelayan;bujang
opzichtor pengawas mandor opsir perwira (pangkat dalam kemiliteran)
beurs pundit-pundi dompet,bea siswa, pekan raya bursa tempat memperjual-belikan saham
asfalt aspal yang basah aspal campuran hidrokarbon alam yang amorf
dienst dinas tentara dinas bagian kantor yang mengurus bagian tertentu
epitheton julukan, nama spesies epitet kata sifat, benda atau frasa yang biasa digunakan untuk menghina orang/benda deskripsi nama/judul

Makna bekel dalam bahasa Belanda lebih tertuju pada benda yang digunakan dalam permainan, sedangkan dalam bahasa Indonesia adalah permainannya itu sendiri.
Makna jongos dalam bahasa Indonesia dan bahasa Belanda cukup jauh berbeda, meskipun ada persamaan yaitu sama-sama laki-laki.
Makna opsir dalam bahasa Indonesia dan bahasa Belanda cukup berbeda tapi ada kemirirpan mungkin pekerjaan perwira salah satunya adalah sebagai pengawas.
Makna bursa dalam bahasa Indonesia dan bahasa Belanda cukup jauh berbeda.
Makana aspal dalam bahasa Indonesia dan bahasa Belanda ada sedikit persamaan. Makna aspal dalam bahasa Indonesia lebih umum daripada makna aspal dalam bahasa Belanda.
Makna dinas dalam bahasa Belanda lebih bersifat khusus sedangkan dalam bahasa Indonesia lebih umum.

ANALISIS ETIMOLOGIS
1. Akta (Indonesia) → Akte (Belanda) → Act (Inggris) → Acte (Prancis) → Actus/Actum (Latin).
2. Apologi (Indonesia) → Opologie (Belanda) → Apology (Inggris) → Apologia (Latin) → Apo (Yunani).
3. Biro (Indonesia) → Bureau (Belanda) → Bureau (Inggris) → Bureau (Prancis).
4. Bui (Indonesia) → Boei (Belanda).
5. Dimensi (Indonesia) → Dimensie (Belanda) → Dimension (Inggris) → Dimensio (Prancis) → Dimetiri/Dimensus (Latin).
6. Distrik (Indonesia) → District (Belanda) → District (Inggris) → Districtus (Prancis) → Districtus (Latin).
7. Fenomena (Indonesia) → Fenomeen (Belanda) → Phenomena (Inggris) → Phainomenon/Phainomai (Yunani).
8. Garasi (Indonesia) → Garage (Belanda) → Garage (Inggris) → Garer/Gare (Prancis).
9. Hipnosis (Indonesia) → Hypnose (Belanda) → Hypnosis (Inggris) → Hupnoo/hupnos/hupnosis (Yunani).
10. Aktivis (Indonesia) → Activis (Belanda) → Activist (Inggris) → Activiste (Prancis) → Activista (Latin) → Activistes (Yunani).
11. Anomali (Indonesia) → Anomalie (Belanda) → Anomalus (Inggris) → Anomalos (Latin).
12. Aspal (Indonesia) → Asfalt (Belanda) → Asphalt (Inggris) → Asphaltos (Yunani).
13. Ateis (Indonesia) → Atheist (Belanda) → Atheiste (Prancis) → Atheista (Latin) → Atheistes (Yunani).
14. Dinas (Indonesia) → Dienst (Belanda).
15. Erupsi (Indonesia) → Eruptie (Belanda) → Eruption (Inggris) → Eruptio (Latin).
16. Erotis/Erotik (Indonesia) → Erotisch (Belanda) → Erotic (Inggris) → Erotique (Prancis) → Eroticus (Latin) → Erotikos (Yunani).
17. Beken (Indonesia) → Bekend/Bekennen (Belanda).
18. Epitet (Indonesia) → Epitheton (Belanda) → Epithet (Inggris) → Epitheton (Latin) → Epitithemi (Yunani).
19. Insiden (Indonesia) → Incident (Belanda) → Incident (Inggris) → Incidentem (Latin).
20. Mayoritas (Indonesia) → Majoriteit (Belanda) → Majority (Inggris) → Majorite (Prancis) → Majoritas (Latin).
21. Opsir (Indonesia) → Officier (Belanda) → Officer (Inggris) → Officeur (Prancis) → Officiarius (Latin).
22. Rezim (Indonesia) → Regime (Belanda) → Regime (Inggris) → Rĕgime (Prancis) → Regere (Latin).
23. Rolet (Indonesia) → Roulette (Belanda) → Roullete (Inggris) → Rouelle/Roue (Prancis) → Rota (Latin).
24. Sampanye (Indonesia) → Champagre (Belanda) → Champagne (Inggris) → Champagne (Prancis).
25. Bilyet (Indonesia) → Biljet (Belanda) → Billet (Prancis).
26. Bilyun (Indonesia) → Bilijun (Belanda) → Billion (Inggris).
27. Dongkrak (Indonesia) → Dommekracht (Belanda).
28. Bir (Indonesia) → Bier (Belanda) → Beer (Inggris) → Beor (Prancis).
29. Favorit (Indonesia) → Favoriet (Belanda) → Favorite (Inggris) → Favoriri/Favorir (Prancis).
30. Mebel (Indonesia) → Meubels (Belanda) → Meubles (Prancis)
31. Kamar (Indonesia) → Kamer (Belanda).
32. Mobil (Indonesia) → Mobiel (Belanda) → Mobile (Inggris) → Mobilis (Prancis) → Movere (Latin).

PENULISAN UNSUR SERAPAN
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sanskerta, Arab, Pertugis, Belanda, atau Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjamaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia. Unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaan hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Dalam makalah ini, kami hanya menuliskan penulisan unsur serapan bahasa Belanda ke bahasa Indonesia.
Penulisan Unsur Serapan Contoh Kata
Bhs. Belanda Bhs. Indonesia
aa (Belanda) menjadi a paal
octaaf
baal pal
oktaf
bal
ee (Belanda) menjadi e stratofeer
systeem stratofer
sistem
ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i politiek
riem politik
rim
oo (Belanda) menjadi o komfoor
provoost kompor
provos
_aat (Belanda) menjadi -at advokaat advokat
-al, -eel (Belanda), -aal (Belanda) menjadi al structural, structureel
formal, formeel
normal, normaal struktural
formal
normal
-archy, -archie (Belanda) menjadi arki anarchy, anarchie
oligarchy, oligarchie anarki
oligarki
-ary, -air (Belanda) menjadi -er complementary, complementair
primary, primair
secondary, secundair komplementer

primer
secunder
-(a)tion, -(a)tie (Belanda) menjadi –asi, -si action, actie
publication, publicatie aksi
publikasi
-eel (Belanda) menjadi -el Ideëel
Moreel
materieel Ideel
Morel
materiel
-ic, -ics, -ique, iek, -ica (Belanda) menjadi –ik, -ika, logi, logica
phonetics, phonetiek
physics, physica
dialectics, dialektica
technique, techniek logika
fonetik
fisika
dialektika
teknik
-ic, isch ( adjektiva Belanda) menjadi -ik electronic, elektronische
mechanic, menanisch
ballistic, ballistisch elektronik
mekanik
balistik
-ical, -isch (Belanda) menjadi -is economical, economisch
practical, practisch
logical, logisch ekonomis
praktis
logis
-ism, isme (Belanda) menjadi -isme modernism, modernisme
communism, communisme
modernisme
komunisme
-ive, ief (Belanda) menjadi -if deskriptive, descriptief
demonstrative, demonstratief
deskriptif
demonstratif
-logy, -logie (Belanda) menjadi -logi technology, technologie
physiology, physiologie
analogy, analogie teknologi
fisiologi
analogi
-loog (Belanda) menjadi -log analoog
epiloog analog
epilog
-oid, -oide (Belanda) menjadi -oid hominoid, hominoide
anthropoid, anthropoide hominoid
antharopoid
-or, -eur (Belanda) menjadi -ur, -ir director, directeur
inspector, inspecteur
amateur
formateur direktur
inspektur
amatir
formatur
-ty, -teit (Belanda) menjadi tas university, universiteit
quality, kwaliteit unversitas
kualitas
-ure, -uur (Belanda) menjadi -ur structure, struktur
premature, prematuur struktur
prematuur

SIMPULAN
Dari pembahasan penyerapan bahasa Belanda ke dalam bahasa Indonesia ternyata cukup banyak. Apalagi, jika dilihat dari sejarah Indonesia yang sekitar 350 tahun dijajah oleh negara Belanda telah mewariskan beberapa kata serapan yang akhirnya digunakan sebagai bahasa Indonesia. Pada masa penjajahan tersebut rakyat pribumi yaitu bangsa Indonesia juga mengikuti atau mengucapkan bahasa yang sama melalui sekolah rakyat maupun curi-simak. Curi-simak bahasa Belanda tersebut rata-rata banyak yang kurang benar apa yang diucapkan dengan yang didengar seperti kata “ot dat ding “ yang berarti “ itu dia” tetapi dimaknai sebuah makanan oleh bangsa Indonesia atau kata mislek, mariam dll.
Dalam menganalisis bahasa Belanda ini kami juga menemukan sebuah fakta baru yaitu penyerapan bahasa Belanda ke dalam bahasa Indonesia melalui adaptasi otografis. Bahasa Belanda ini biasanya masih digunakan oleh para orang tua. Penyerapan bahasa Belanda ke dalam bahasa Indonesia berkisar 1500 kata. Kemudian, penyerapan bahasa Belanda ini dalam pelafalannya cenderung dipertahankan yaitu hampir sama dengan pelafalan bahasa aslinya tapi tidak sempurna contohnya, kata asfalt menjadi aspal.
Kami berpendapat bahwa bahasa Belanda jika dilihat dari sejarah sangat berpengaruh dalam penyerapan bahasa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud RI. (1996). Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan Bahasa.

Depdikbud RI. (2005). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Bandung: Pustaka Setia.
NN. (2006). Bahasa Belanda. [Online]. Tersedia: http://www.erastaal.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=30&Itemid=61&lang=id [15 Agustus 2006].
NN. (2006). Sejarah Bahasa Indonesia. [Online]. Tersedia: http://www.kompas.com/kompascetak/0407/08/PendIN/1130655.htm. [15 Agustus 2006].
Saadie, Ma’mur. (1997). Bahasa Bantu. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tim Penyusun. (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Tim Penyusun. (1996). Kamus Belanda. Jakarta.

PRAGMATIK: WACANA DAN KEBUDAYAAN

WACANA DAN KEBUDAYAAN

    Dari penjelasan bab sebelumnya, yaitu contoh struktur percakapan yang berbicara aspek "turn talking" prosedur untuk kontrol atau dasar yang harus dimiliki oleh seorang pembicara ketika ingin berpendapat atau berbicara. Setelah dasar itu dimiliki, para pembicara juga harus mampu mengatur isi dan struktur apa yang akan dibicarakan. Mereka harus menyimpan apa yang akan mereka bicarakan kepada para pendengar, misalnya dengan cara menuliskannya kedalam sebuah teks tetapi cara ini tidak memungkinkan pendengar bisa berinteraksi secara langsung dengan pembicara. Sebagai konsekuensinya, pembicara harus memegang mekanisme struktur dan harus lebih jelas lagi dalam menulis isi teks mereka. Bahasa yang digunakannya pun diusahakan tidak hanya berfungsi dalam hubungan antar individu, tetapi juga tekstual yang berfungsi menciptakan sebuah teks yang sesuai, baik, dan juga mewakili ide penulisnya. Dari penjelasan tersebut inilah yang disebut analisa wacana.


 

ANALISA WACANA

    Analisa wacana adalah suatu aktivitas yang mempunyai cakupan yang luas, dari hasil penelitian yang dipusatkan pada kata "aduh" atau "dengan baik" yang kebetulan sering digunakan saat percakapan. Dalam studi ideologi dominan suatu budaya yang sering digunakan dalam praktik politis atau bidang pendidikan ketika berpindah ke ilmu bahasa yaitu tentang analisa percakapan yang berpusat pada catatan tentang proses bagaimana bahasa digunakan untuk mengungkapkan sebuah maksud.

    Secara alami ada banyak struktur percakapan. Perspektif struktural, memfokuskan topik seperti koneksi dalam sebuah teks. Koneksi ini cenderung muncul dalam teks yang berkarakteristik cerita.

    Bagaimanapun di dalam sebuah studi, percakapan perspektif dalam pragmatis dikaji secara khusus. Hal ini dipusatkan secara rinci dalam pragmatik. Yang harus kita perhatikan adalah interaksi sosial, dengan analisa percakapan, melihat kembali struktur dan format teks lisan, dan memperhatikan konsep psikologis seperti latar belakang, kepercayaan dan harapan. Dalam wacana yang pragmatis kita tidak bisa menghiraukan maksud dari pembicara atau penulis.


 

KETERIKATAN (COHERENCE)

    Biasanya para pemakai bahasa memiliki keterikatan antara pengalaman dan apa yang dikatakannya. Pemikiran tersebut ditafsirkan oleh masing-masing individu . Dengan begitu akan timbul kesinambungan antara yang ada dalam pikirannya (deep structure) dengan apa yang disampaikannnya (surfice strukture).


 

PENGETAHUAN LATAR BELAKANG

    Kemampuan kita secara otomatis berada pada penafsiran tidak tertulis yang tanpa diutarkan dan didasarkan pada "pra-existing" struktur pengetahuan. Struktur ini berfungsi sebagai pola dalam menginterprestasikan pengalaman sebelumnya dengan pengalaman baru. Istilah ini disebut skema/bagan

    jika kita menyampaikan sesuatu, kadang-kadang tidak secara utuh disampaikan. Contohnya dalam suatu lingkungan apartemen, yang kita ketahui memiliki komponen-komponen seperti dapur, kamar mandi, dan kamar tidur. Tetapi unsur-unser tersebut tidak selalu kita utarakan misalnya dalam iklan, kita hanya menuliskannya dengan

    [5]. Disewakan apartemen $ 500. 763-6663.

    Contoh di atas bisa ditafsirkan bahwa tidak hanya satu apartemen saja yang akan disewakan atau berapa lama apartemen itu akan disewakan, semua kemungkinan-kemungkinan tersebut akan muncul sesuai dengan pengalaman para pembaca masing-masing. Titik pragmatisnya adalah akan timbul penafsiran yang berbeda pada contoh teks tersebut sesuai dengan pengalaman/pengetahuannya.

    Jenis skemata yang lebih dinamis adalah catatan. Suatu catatan merupakan pre-exixtering yang disertakan dalam suatu peristiwa. Catatan ini berguna untuk menafsirkan apa saja yang kita lakukan secara normal/lazim. Misalnya kita pergi ke dokter, ke bioskop, ke rumah makan, atau ke toko, dengan cara yang normal.

    [6]. Aku berhenti di toko untuk mendapatkan beberapa bahan makanan, tetapi di     sana tidak ku temui keranjang, dan tiba-tiba saja aku sudah diluar ini seperti     pewrmainan sulap aku mendapatkan kebahagian di hari yang kurang baik.

    

SKEMA BUDAYA

    Semua orang pasti mempunyai pengalaman mengejutan dan tidak terduga yang menghilang begitu saja. Saya ingat ketika pergi ke rumah makan Meroccan, saat itu saya belum mengetahui kebudayaan mereka. Disana bantal digunakan sebagai pengganti kursi. Tidak bisa dipungkiri bahwa perbedaan kebudayan mempengaruhi pemahaman kita. Selanjutnya kita harus mengembangkn skemata kita untuk mengembangkan pengalaman kita tersebut.

    Karena beberapa perbedaan yang nyata tersebut, kita dapat memahami suatu budaya. Karena banyak perbedaan yang tidak bisa dipisahkan, maka kita sering tidak bisa membedakannya dan terjadilah salah penafsiran. Contohnya seorang pekerja pabrik di Australia mengira bahwa pekerja pabrik lainnya mengetahui hari paskah tidak lama lagi dan mereka akan segera mendapatkan hari libur. Ia lalu bertanya pada pekerja lain yang berasal dari Vietnam [7].

    [7]. Kamu mempunya lima hari libur. Apa yang akan kamu lakukan?

    Pekerja yang berasal dari Vietnam itu, seketika menerjemahkan ucapan pekerja tersebut dengan pemberhentian kerja (PHK). Fikiran baik di skema seseorang belum tentu baik di pikiran yang lainnya.


 

PRAGMATIK ANTAR BUDAYA

    Perbedaan studi/pengajaran di dasarkan pada skema budaya yang menjadi bagian penelitian pragmatik antar budaya. Untuk melihat maksud yang disampaikan oleh pembicara yang berasal dari kebudayaan yang berbeda harus dengan pemikiran yang sungguh-sungguh. Konsep dan istilah dapat dijadikan kerangka analitik, hanya saja perwujudan konsep tersebut biasanya berbeda dengan bahasa inggris, contohnya dalam memperkenalkan diri.

    Ketika kita meninjau prinsip kerjasama dan pribahasa, kita mengasumsikan beberapa macam anglo-amerika kelas menengah umum, sebagai latar belakang budaya. Akibat dari jika kita tidak megasumsikan suatu ujaran sebagai bagian dari budaya untuk percakapan/ujaran yang sering kita gunbakan, maka akan terjadi masalah dalam lingkungan masayarakat. Keadaan seperti ini dalam lingkungan budaya suatu masyarakat harus dikaji dengan pendekatan yang berbeda dengan pendekatan hubungan antara mutu pribahasa dan kebanyakan ujaran yang digunakan secara umum oleh masyarakat.

    Ketika kita mempertimbangkan cara bertanya, kita tidak perlu melihat posisi kita berujar (wujud dari percakapan normal) dengan budaya yang berbeda-beda, walaupun dalam suatu disusi ita memliki hak untuk berbicara, namun karena budaya yang berbeda kita harus memahami itu sebagai proses dari interaksi sosial.

    Ketika kita memperhatikan orang yang sedang berpidato, pengamatan kita harus sampai pada hal yang paling mendasar, pada konsep budaya dalam menginterprestasikan konsep "berterima kasih atau ninta maaf". Gaya bahasa Inggris Amerika memiliki ke-has-an yang kadang menimbulkan kebingungan pada penerimanya, seperti yang beasal dari India (Amerika), mereka menangkapnya sebagai sesuatu yang berlebihan. Namun konsep meminta maaf bagi orang Jepang, konsep meminta maaf seperti itu kurang berterima. Tentu saja antara satu kelompok budaya dengan kelompk budaya yang lainnya memiliki perbedaan contohnya dalam tindakan sederhana yaitu meminta maaf/berterima kasih jika dikaitkan dengan budaya yang berbeda-beda pula.

    Kajian tentang perbedaan kebudayaan ini disebut perbedaan pragmatik. Peneitian dilakukan secara memusat pada perilaku penutur saat berkomunikasi, maka dapat dilihat dengan menggunakan pendekatan "interlanguage pragmatis". Seperti itu juga untuk membuktikan bahwa kita semua berbicara dengan dilambangkan dengan ujaran-ujaran, kita harus lebuh dulu meningkatkan pendekatan untuk melakukan kajian.

    Jika kita semua mengembangkan kemampuan untuk memaami komunikasi antar budaya, kita harus meluangkan waktu yang lebih banyak untuk memerhatikan ujaran si penutur. Sehingga mampu memahami apa maksud ujaran tersebut. Kemudian saya berharap penelitian ringkas ini mampu menyajikan suatu permulaan atau stimulus untuk penyelidikan lebih lanjut.

PRAGMATIK: Kerjasama dan Implikatur

Kerjasama dan Implikatur

Dalam sebuah tuturan, akan terlibat interaksi antara penutur dan petutur/mitra tutur. Faktor utama dalam keberhasilan sebuah interaksi tutur adalah faktor kerjasama. Dari faktor kerjasama inilah akan tercipta sebuah interaksi tutur yang koheren, karena antara penutur dan mitra tutur akan terjalin sebuah kesinambungan tuturan/pemikiran. Kerjasama merupakan bentuk yang sederhana dimana orang-orang yang sedang terlibat dalam tindak tutur umumnya tidak berusaha untuk membingungkan, mempermainkan, atau menyembunyikan informasi antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam banyak peristiwa tutur, kerjasama merupakan titik awal untuk menjelaskan apa yang dituturkan.

Contohnya dalam sebuah percakapan antara seorang montir dan seorang anak laki-laki.

Anak laki-laki     : Apakah ban itu?

Montir        : Ban ya ban

Dari jawaban montir tersebut, tampak tidak memiliki nilai komunikatif, sebab tidak memiliki nilai komunikatif yang jelas. Hal ini disebut tautology (pengulangan kata tanpa menambah kejelasan). Jika ungkapan-ungkapan itu dipakai dalam percakapan, dengan jelas penutur bermaksud meminta informasi yang lebih banyak daripada yang dikatakan.

Jika seorang pendengar mendengar 'Ban ya ban', pertama-tama dia harus berasumsi bahwa penutur sedang melaksanakan kerjasama dan bermaksud menyampaikan informasi. Informasi tersebut tentunya memiliki makna yang lebih banyak daripada sekedar kata 'ban ya ban'. Makna ini merupakan makna tambahan atau disebut juga implikatur. Dengan mengatakan 'ban ya ban' penutur berharap bahwa mitra tutur dapat menentukan implikatur yang dimaksud berdasarkan tonteks, berdasarkan apa yang sudah diketahui.

Setelah penutur diberi kesempatan menilai Ban, penutur menganggapi tanpa penilaian, jadi dia tidak memiliki implikatur untuk dikatakan pada mitra tuturnya. Padahal jika disimpulkan akan muncul implikatur tambahan, misalnya bahwa ban adalah salah satu komponen kendaran bermotor, berbentuk bulat, dan lain-lain.

Implikatur adalah contoh utama dari banyaknya informasi yang disampaikan daripada yang dikatakan. Agar implikatur-implikatur itu dapat ditafsirkan maka harus dipahami beberapa prinsip kerjasama.

Prinsip Kerjasama

    Prinsip kerjasama dapat diperinci dalam empat sub-prinsip yang disebut dengan maksi (Grice, 1975). Yaitu:

  1. Maksim Kuantitas

        Maksim kuantitas adalah percakapan yang singkat tetapi maknanya padat, tepat, dan tidak berbelit-belit. Contohnya "Saya sedang makan di restoran padang"

  1. Maksim Kualitas

        Maksim kualitas adalah percakapan yang sesuai denan kenyataan dan faktanya. Contohnya "Hari ini mendung" (diucapkan pada saat cuaca memang sedang mendung)

  1. Maksim Hubungan

        Maksim hubungan adalah kerelevanan. Artinya terjalin kerjasama yang baik antara penutur dan mitra tutur.

  1. Maksim Tindakan

        Ada syarat dalam maksim tindakan, yaitu hindarkan ungkapan yang tidak jelas, buat tuturan sesingkat mungkin (hindari tuturang panjang-lebar yang tidak perlu), dan buatlah secara urut atau teratur. Contohnya "saya sedang mengerjakan tugas Pragmatik"


 

PEMBAHASAN

Contoh ujaran I :

Pada suatu siang seorang salesman alat penghisap debu menuju sebuah rumah di sebuah perumahan yang baru di huni beberapa keluarga. Diketuknya pintu depan rumah baru tersebut. Sebelum sempat nyonya rumah itu berkata sepatah kata pun ia menghamburkan segala macam kotoran ke karpet ruang tamu untuk demo alat yang ditawarkan.

    Sales : " nyonya"

Sales : "saya yakin akan kemampuan mesin ini. Karpet ini akan bersih kembali dalam sekejap. Jika nanti masih ada kotoran yang tertinggal saya bersedia memakannya ".

    Nyonya : "kalau begitu mulailah makan sampah itu, rumah kami belum punya listrik" kata nyonya rumah itu. (kapanlagi.com).


 

ANALISIS

    Dari cuplikan humor tersebut jelas sekali terlihat bagaimana sang penutur (sales) menyampaikan maksudnya yang menginginkan agar barang yang dijualnya dapat di beli oleh pembeli yaitu mitra tuturnya (Nyonya). Dengan berbagai bujuk rayu sales tersebut mencoba menawarkan alat penghisap debu tersebut. Pada penggalan berikut

"jika nanti masih ada kotoran yang tertinggal saya bersedia memakannya" kata sang sales berlagak.

    Ini membuktikan bahwa ujaran tersebut masuk ke dalam kategori prinsip kerja sama yaitu melanggar maksim kuantitas, karena seperti kita tahu, maksim kuantitas mengharuskan penuturnya untuk memberikan informasi seinformatif mungkin, tidak melebihi apa yang diinginkan mitra tuturnya. Berikut adalah contoh tuturan yang masuk kedalam pelanggaran maksim kuantitas. "saya yakin akan kemampuan mesin ini. Karpet ini akan bersih kembali dalam sekejap. Jika nanti masih ada kotoran yang tertinggal saya bersedia memakannya " Karena dalam ujaran terlalu di lebih lebihkan (hyper) sehingga menimbulkan anggapan bahwa alat penghisap debu itu benar-benar bagus sehingga tidak mungkin ada debu yang masih tertinggal.

    

        Selain melanggar maksim kuantitas, ternyata tuturan di atas juga mempunyai kecenderungan untuk masuk ke dalam klasifikasi tuturan yang melanggar maksim kualitas. Poin utama yang harus ditaati dalam maksim kualitas adalah, jangan menuturkan tuturan yang kebenarannya tidak dapat dipertanggung jawabkan, dalam arti tuturan itu harus sesuai dengan faktanya. Contoh tuturan yang melanggar maksim kualitas adalah sebagai berikut. "saya bersedia memakannya " Tuturan itu sangat jelas melenceng dari asas kelaziman, karena sangat tidak mungkin ada manusia yang bersedia memakan sampah, atau boleh dikatakan tuturan itu memuat "kebohongan besar".

.    Tetapi ada yang lebih unik lagi yang menggelitik penulis yaitu maksud yang disampaikan oleh penutur ternyata tidak diterima sama oleh mitra tuturnya. Dapat dilihat dalam penggalan berikut

"kalau begitu , mulailah makan sampah itu. Rumah kami belum punya listrik" kata nyonya..

    Terlihat jelas ternyata maksud penutur tidak diterima dengan baik oleh mitra tuturnya yaitu pembeli. Sesuai konteks, yakni tuturan humor, adalah hal yang wajar apabila banyak tuturan-tuturan yang tidak selaras, atau tidak sesuai dengan asas kelaziman. Seperti kita lihat, berbagai pelanggaran (maksim kualitas dan kuantitas) yang dituturkan oleh penutur ternyata dilakukan juga oleh mitra tutur, yaitu melanggar maksim relevansi. Terlihat dari contoh berikut:. "kalau begitu mulailah makan sampah itu, rumah kami belum punya listrik" kata nyonya rumah itu.

    . Dari percakapan tersebut bisa kita lihat tidak adanya kerja sama yang dilakukan oleh penutur kepada mitra tutur atau sebaliknya. Sehingga menimbulkan berbagai pelanggaran, khususnya relevansi.


 

Contoh ujaran II :

Si bun bun bertandang ke rumah seorang teman yang baru saja dia kenal . setelah disuguhi kopi dan ngobrol kesana kemari, bun bun bermaksud handak meminta sebtang rokok padanya. Namun ia, merasa malu untuk menyampaikannya secara langsung maksudnya itu, maka ia memancing dengan meminjam korek api dulu pada temannya yang kebetulan buka perokok.

Bun bun        : " eh punya korek api?"

Teman        : " nih,!" (sambil menyodorkan sebuah korek gas pada bun bun)

Bun bun    : " mmm.....sekalian sama yang biasanya dinyalai dog!" (maksud bun bun adalah rokok)

Teman        : " oh...sebentar ya"

Teman bun bun beranjak dari kursinya menuju ke dapur untuk beberapa saat dan keluar lagi ke ruang tamu.

    Teman        : " nih!" katanya sambil memberikan sebatang lilin pada bun bun.    


 

ANALISIS

"Eh punya korek api?" adalah tuturan yang dapat di masukan ke dalam teori Indirect speech act atau tuturan tidak langsung. Karena, si penutur (Bun-bun) sebenarnya tidak mempunyai tujuan hanya meminta korek api (kalimat tanya), melainkan secara tersirat juga mengandung permintaan kepada mitra tuturnya untuk sekaligus memberinya rokok (kalimat perintah), seperti dalam kutipan berikut, : " mmm.....sekalian sama yang biasanya dinyalai dog!" (maksud bun bun adalah rokok).

Dan sesuai dengan hipotesis penulis, bahwa memang dalam konteks humor, semua tuturan adalah ketidakselarasan. Dan fakta itu di dapat dari tuturan penutur yang secara tersirat meminta sebatang rokok, tetapi interpretasi yang dimaknai oleh mitra tutur tidak sesuai dengan yang diharapkan penutur, mitra tutur malah mengambil lilin. Dalam hal ini mitra tutur melanggar maksim relevansi. Ini terlihat dari tuturan : "Nih!" katanya sambil memberikan sebatang lilin pada bun-bun."    

Itulah analisis tentang dua cuplikan humor yang dapat penulis kaji.

SIMPULAN

    Setelah melakukan observasi, maka fakta yang didapat adalah sebagai berikut:

1. Bila dalam konteks konvensional, berbagai pelanggaran terhadap maksim kerja sama itu akan berimplikasi kepada tidak harmonisnya sebuah transaksi komunikasi. Namun demikian, bila pelanggaran itu berjalan dalam konteks humor maka kelucuanlah yang akan didapatkan.

2. jika sebuah bahsa kita teliti dengan baik maka dalam percakapan kita sehari-hari mungkin akan banyak sekali deretn pelanggaran maksim-maksim dari prinsip kerjasama tersebut. Ini juga dapat kita simpulkan bahwa ujaran manusia memang cukup unik dan ternyata dalam sebuah ujaran bisa terdapat adanya berbagai interpretasi dari mitra tutur, dan jika terjadi kesalahpahaman atau misinterpretasi ini bisa di sebabkan karena mitra tutur tidak mempunyai pengetahuan yang smaa atau juga tidak mempunyai kesesuaian maksud seperti yang petnutur inginkan.