Selasa, 16 Maret 2010

Kursi Sekolah untuk Orang Rimba


Melihat acara di TV yang membahas tentang Orang Rimba (Suku Anak Dalam) Aku jd brfkr :? Mendapat pendidikan yang layakkah anak-anak di sana?Ada skolahkah d sana?Adakah guru yg brsedia ngajar di sana? Banyak pertanyaan-pertanyaan d benakku dan apakah anak di sana juga ikut UN?
Mungkn tidak hanya anak-anak d Suku Anak Dalam saja। Masih banyak anak usia sekolah di pedalaman, terutama di luar pulau Jawa yang belum mendapatkan haknya, hak mendapat pendidikan yang layak seperti yang di janjikan d ÜUD. Film Denias dan Laskar Pelangi merupakan secuil fakta di lapangan. Iklan layanan masyarakat yang menginformasikan bahwa sekolah sekarang gratis mungkin hanya berlaku untuk yang sudah mempunyai gedung sekolah. Bagaimana nasib anak-anak d pedalaman? boro-boro mendapat sekolah gratis, lah gedung sekolah dan yang ngajarnya gak ada, duh siapakah yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku ini??Para petinggi negeri ni malah sedang asik berebut kursi d DPR,mereka gak peduli klo d pedalaman negeri tempat mereka berebut kekuasaan ada puluhan ribu anak yang gak punya kursi utuk sekolah. Sungguh miris disaat para petinggi berebut kursi untuk melanggengkan kekuasaan,di tempat lain puluhan anak memerlukan kursi sekolah. Haruskah puluhan ribu anak d pedalaman itu mengikuti jejak Denias? Denias anak suku pedalaman di Papua yang mendaki gunung lewati lembah hijrah ke kota dengan satu tujuan ingin merasakan nikmatnya duduk dan belajar di gedung sekolah.

Minggu, 28 Juni 2009

Teruntuk beyangan semu yang terpotret pada imajinasiku.


Derai-derai september ku lalui tanpa dirimu lagi
tanpa dekapmu
tapi sungguh kali ini tak kurasakan hampa
ada sejuta asa merangkul pundaku
mengajakku tuk terbang jauh ke angkasa
menari dengan awan
berbagi bersama bintang-bintang

Sejak kau tepiskan mimpi-mimpiku
ku coba tuk tetap tegar, meski tak setegar malam
ku coba tuk tetap bertahan, meski gamang menyumbat dada
ku coba tuk sematkan kekuatan pada jantung
meski tanpamu

Penjengahan menyeretku pergi jauh dari bayang-banyangmu
lalu ia meninggalkanku, memaksaku tuk tetap diam
di sudut terdalam.
beruntung sang waktu tetap menemaniku
menuntun langkahku
menggenggam erat jemariku
mengajakku berlari sejauh yang ku mampu
membawaku terbang setinggi yang ku mau

Pada kerlip bintang, tanpa sungkan kan ku..
tinggalkan bongkahan sorot matamu,
aroma tubuhmu, belai hangatmu, juga
mesra yang masih tertinggal di hati
pada senyum rembulan kan ku pinta ketulusannya
pada pekat malam kan ku pinta ketegarannya

Sesungguhnya ada ketidakmengertian yang tertinggal dibenaku
Ada ketidakrelaan yang membekas di jiwa
tapi kini tak kan kucari apa jawabnya
aku memilih melupakanmu saja
lalu menari bersama bintang
berharap kelak bintang-bintang itu mewujud ragamu
menari denganku sepanjang malam
meski ia hanya beyangan semu yang
terpotret pada imajinasiku.

070907